Rabu, 11 April 2012

Hukum Menukil Ucapan Ahli Bid'ah (Bag. 3)

Telah ditanya Syaikh Rabi’ Al-Madkhali Hafizhahullah –Beliau adalah pembawa panji al-jarah wat-ta’dil dizaman ini- dalam sebuah kaset yang berjudul “Liqaa’ ma’as salafiyyin al-falasthiniyyin”, Berikut teks pertanyaanya:

“Wahai Syaikh kami yang mulia, apakh boleh mengambil manfaat dari kitab- kitab ahli bid’ah jika ditulis sebelum mereka menyimpang, atau setelahnya namun tidak terdapat penyimpangan dan bagus dalam satu permasalahan tertentu?

 

Beliau menjawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه أما بعد

Jawaban atas pertanyaan ini, saya mengatakan:

إن في كتاب الله وفي سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، وفي تراث سلفنا الصالح الطاهر النظيف ما يغني عن الرجوع إلى كتب أهل البدع........ سواءً ألفوها قبل أن يقعوا في البدع أو ألفوها بعد ذلك؛ لأن من مصلحة المسلمين إخماد وإخمال ذكر أهل البدع

فالتعلق بكتبهم بقصد الاستفادة يرفع من شأنهم ويعلي منازلهم في قلوب كثير من الناس، ومن مصلحة المسلمين والإسلام إخماد وإخمال ذكر رؤوس البدع والضلال.

وما يخلو كتاب من الحق ، حتى كتب اليهود والنصارى وطوائف الضلال تمزج بين الحق والباطل

فالأوْلى بالمسلم أن يركز على ما ذكرناه سلفاً، فإنه آمَن للمسلم وأضمن له، وأبعَد له من أن يكرم من أهانه الله. ......................... هذا ما أقوله إجابةً على هذا السؤال

“Sesungguhnya didalam kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, demikian pula dalam warisan pendahulu kita generasi salafus saleh yang suci dan bersih sudah mencukupi dari merujuk kepada kitab-kitab ahli bid’ah..... sama saja, apakah mereka menulisnya sebelum terjerumus kedalam bid’ah atau mereka menulis setelah terjatuh kedalamnya. Sebab diantara bentuk kemaslahatan kaum muslimin adalah memadamkan dan menghilangkan penyebutan ahli bid’ah. Maka bergantung kepada kitab-kitab mereka dengan tujuan mengambil faedah, akan mengangkat kedudukan mereka dan meninggikan posisi mereka didalam hati kebanyakan manusia. Diantara kemaslahatan kaum muslimin dan islam adalah memadamkan dan melenyapkan penyebutan tokoh- tokoh bid’ah dan kesesatan.

Tidak satupun kitab yang tidak ada kebenarannya, meskipun itu kitab-kitab kaum yahudi, nashara, dan kelompok-kelompok sesat yang mencampur adukkan antara yang hak dan yang batil. Maka lebih selamat bagi seorang muslim untuk memfokuskan dirinya dengan apa yang kami sebut tadi, sebab yang demikian lebih aman dan lebih terjamin, dan lebih jauh dari kekhawatiran dimuliakannya orang yang dihinakan Allah Azza Wajalla........... Ini jawaban saya atas pertanyaan ini.”

(Dinukil dari makalah: hukum menghadiri pelajaran ahli bid’ah: http://www.sahab.net...ad.php?t=349426)

 

Aku berkata: inilah yang kami sebutkan dari perkataan para ulama yang kokoh ilmunya dari para imam salaf dalam memberi peringatan dari melihat kitab- kitab ahli bid’ah, padahal mereka jugalah yang membolehkan menukil riwayat dari seorang ahli bid’ah dengan memperhatikan syarat-syaratnya.

Sebagai contoh, Telah dinukil dari Imam Adz-Dzahabi Rahimahulah bahwa Beliau berkata: “Permasalahan ini belum diperjelas sebagaimana mestinya, dan yang nampak bagi saya adalah: bahwa siapa yang terjatuh kedalam satu bid’ah, dan tidak termasuk diantara tokoh- tokohnya, dan tidak pula tenggelam didalamnya, boleh diterima haditsnya sebagaimana yang dicontohkan oleh Al-Hafizh Abu Zakaria tentang mereka, dan hadits mereka disebutkan dalam kitab-kitab islam disebabkan karena kejujuran dan hafalan mereka.

(Siyaru A’laam An-Nubala: 7/154)

 

Aku berkata: dan Beliau (Imam Adz-Dzahabi) pulalah yang memberi peringatan dari kitab-kitab ahli bid’ah sebagaimana yang dinukil dari Beliau sebelumnya.

Dikuatkan pula dengan apa yang disebutkan Imam Malik Rahimahullah :

لا يؤخذ العلم من أربعة ويؤخذ من سوى ذلك ، لا يؤخذ من سفيه ولا يؤخذ من صاحب هوى يدعو الناس إلى هواه ولا من كذاب يكذب في أحاديث الناس وإن كان لا يتهم على حديث رسول الله ولا من شيخ له فضل وصلاح وعبادة إذا كان لا يعرف ما يحدث

“Tidak boleh diambil ilmu dari empat jenis manusia, dan boleh diambil dari yang lainnya: tidak boleh diambil ilmu dari orang yang dungu, tidak pula dari pengikut hawa nafsu yang mengajak kepada hawa nafsunya, tidak boleh pula dari pendusta yang berdusta dalam ucapan manusia, meskipun tidak tertuduh berdusta atas hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, tidak boleh pula dari seorang syaikh yang memiliki keutamaan dan kesalehan dan ibadah, jika dia tidak mengetahui apa yang dia beritakan.”

Berkata Syaikh Muhammad bin Saleh al-Utsaimin Rahimahullah: dan yang mengetahui dari ucapan syaikh –semoga Allah merahmati dan memberi taufik kepadanya- bahwa tidak boleh diambil sedikitpun dari pelaku bid’ah, meskipun yang tidak menyangkut bid’ahnya. Misalnya: jika kita mendapati seorang ahli bid’ah, namun dia bagus dalam ilmu bahasa arabnya, seperti ilmu balaghah, nahwu dan sharaf. Apakah boleh kami duduk di majelisnya dan mengambil ilmu yang dimilikinya ataukah kita memboikotnya? Yang nampak dari ucapan syaikh bahwa kita tidak boleh duduk dimajelisnya, sebab yang demikian menimbulkan dua kerusakan:

Pertama: dia (ahli bid’ah,pen) akan tertipu oleh dirinya sendiri sebab dia akan menyangka bahwa dia berada diatas kebenaran.

Kedua: orang lain pun akan tertipu dengannya, disaat para penuntut ilmu mendatangi majelisnya dan mengambil ilmu darinya, sedangkan orang awam tentu tidak bisa membedakan antara ilmu nahwu dan ilmu aqidah. Oleh karenanya, kami memandang bahwa seseorang tidak boleh duduk dimajelis para pengekor hawa nafsu dan bid’ah secara mutlak, meskipun dia tidak mendapati ilmu bahasa arab, balaghah dan sharaf misalnya kecuali dari mereka, niscaya Allah Ta’ala akan menggantikan yang lebih baik darinya. Sebab jika kita mendatangi mereka ini, dan seringkali mendatanginya tentu akan menyebabkan tertipunya mereka, dan tertipunya manusia dari mereka.”

(syarah hilyah thalibul ilmi:93-94)

 

Berkata pula Syaikh Khalid bin Abdurrahman Al-Mishri Hafizhahulah:

“Oleh karenanya, banyak dari kalangan para pemuda tatkala dia mengatakan: saya ingin mengambil ucapan dari ahli bid’ah yang baik tentang masalah surga, tentang pembersihan jiwa, dan seterusnya. Sebagaimana para ulama salaf dahulu mengambil riwayat dari mereka.

 

Maka kami katakan:

Memboikot ahli bid’ah sebagai bentuk celaan dan hinaan terhadap mereka. Bagaimana mungkin ahli bid’ah tersebut membuat majelis lalu didatangi oleh ribuan manusia? Apakah kehadiran dan mengambil ilmu tertentu dari orang tersebut seperti nasehat, bimbingan, memberi rasa takut, atau targhib dan tarhib, apakah ini termasuk dalam bentuk hajr (pemboikotan) atau bertentangan dengan hajr? Sebab dalam hal periwayatan, pada hakekatnya kita tidak mengambil ilmu dari mereka, namun kita mengambil apa yang diriwayatakan dari Nabi Shallallah Alaihi Wasallam jika dia seorang perawi yang jujur. Jadi, kita tidak mengambil ilmu yang dia berijtihad padanya, namun tatkala dia masuk melalui pintu zuhud dan pembersihan jiwa, lalu majelisnya didatangi dari sana dan sini, dan dia semakin dimuliakan dan banyak manusia yang tertipu dengannya. Thalaq bin Habib diterima riwayatnya oleh mayoritas ahlul hadits dan mereka memberi peringatan dari bermajelis dengannya! Maka berbeda antara mengambil riwayat dari ahli bid’ah dengan bergaul dengannya dan mengambil faedah darinya.Jelas?, mereka dahulu yang mengambil riwayat dari Thalaq dan yang semisal Thalaq, mereka pulalah yang memberi peringatan untuk bermajelis dengannya!, bukan hanya dalam pelajaran- pelajarannya, namun hanya sekedar mereka melihat ada seseorang yang duduk bersamanya, maka mereka langsung memberi peringatan darinya.”

(Al-Bayaanaat Al-Waadhihaat fii fiqhi manhajil muwaazanaat warraddu alaa ahlit tayhi wasy syataat, situs sahab:http://www.sahab.net...ad.php?p=703797)

 

Aku berkata: maka berbeda antara meriwayatkan hadits dari ahli bid’ah dengan memperhatikan beberapa ketentuan, dengan melihat dan menukil dari kitab- kitab mereka. Apakah telah jelas bagimu wahai orang yang selalu mencari- cari yang tersamarkan dari fatwa- fatwa para ulama?.

Namun saya berkata sebagai penutup makalah ini: jika didalam kitabullah Azza Wajalla terdapat ayat-ayat yang muhkam dan mutasyabih, maka terlebih lagi dalam perkataan para ulama. Namun sebagaimana yang difirmankan Allah Azza Wajalla:

فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ

Dari Aisyah Radhiyallahu anha berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membaca ayat:

{هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ }

“Dialah yang menurunkan Al-kitab (Al-Qur’an) kepada kamu, diantara isinya ada yang muhkamat, dan itulah pokok-pokok isi al-qur’an dan adapula yang mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari penakwilannya, padahal tidak ada yang mengetahui penakwilannya kecuali Allah, dan orang- orang yang dalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat- ayat tersebut, semuanya datang dari Rabb kami, dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang- orang yang berakal.”

(QS.Ali Imran:7)

Lalu Aisyah berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

إذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سماهم الله فاحذروهم

“”Jika Engkau melihat orang- orang yang mengikuti ayat-ayat yang samar, maka mereka itulah orang- orang yang Allah sebut tentang mereka, maka berhati- hatilah kalian dari mereka.”

(muttafaq alaihi)

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=112719


Sumber : salafybpp